PERJALANAN HIDUP SALMAN AL-FARISY

Dari Persi dia datang, datangnya pahlawan kali ini. Dan dari Persi pula Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu’min yang tidak sedikit jumlahnya,

dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang keilmuwan dan keagamaan, maupun dalam ilmu pengetahuan dan keduniaan. Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya setiap kemampuan serta digalinya setiap bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, hingga bermunculanlah dokter-dokter Islam, ahli-ahli falak Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam.

Ternyata bahwa para ilmuan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa – masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agamanya …. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu disampaikan oleh Rasulullah Shallalu ‘Alaihi Wasallam. bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Alloh Yang Maha Besar Lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya.

Salman al-Farisi sendiri turut menyaksikan hal tersbut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi pada perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah dan Kaum Muslimin. serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini. Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah {Yahudi} akan memyerangnya dari dalam – yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin- sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenya mereka akan hancur lumat dan tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran yang artinya sebagai berikut : “Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. {QS. 33 al-Ahzab : 10}

Dua puluh empat ribu orang (24.000) prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menakutkan yang akan menghabisi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam Agama serta para sahabatnya. Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhhir dan menentukan dari pihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin menginsafi keadaan yang gawat ini, Rasulullah pun mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang akan mereka lakukan untuk bertahan itu? Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam Itulah dia Salman al-Farisi. Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, daan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu dilingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitupun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampilah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah, yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman tersebut.

Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota. Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak porandakan mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka … dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit … Sewaktu menggali parit, Salman tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.

Salman seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka. Salman pergi mendapatkan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah pun pergi bersama Salman untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah meminta sebuah tembilang dan menyuruh para sahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti ….

Rasulullah lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. “saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah”, kata Salman, sementara Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam mengucapkan takbir, sabdanya : “Allah Maha Besar. Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitupun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua iu”..

Lalu Rasulullah mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah bertakbir sabdanya: ““Allah Maha Besar. Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti gemuruh oleh Kaum Muslimin. lalu diceritakanlah oleh Rasulullah bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a, begitupun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.

Salman adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan-ramlan ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam Ia berdiri di samping Rasulullah menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan, dilihat bahkan dialami dan dirasakannya sendiri. Dilihatnya kota-kota di persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai-mahligai di Shan’a, dan Mesir, di Syria dan di Irak. Pendeknya disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah dan petunjuk Allah ….

Nah, itulah dia sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang baerdaun rimbun, di muka rumahnya di kota Madain; sedang menceriterakan kepada sahabat-sahabatnya perjuangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, masuk ke dalam agama Nashrani dan dari sana pindah ke dalam agama islam. Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan fikiran dan jiwanya … Betapa ia di jula di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah dan Iman kepadanya …. Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceritakannya.

“Aku berasal dari Isfahan, warga sutu desa yang bernama “ji”. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluq Aalh yang disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam. Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: “ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini”. Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani dari mana asal-usul agama mereka. “Dari Syria”, ujar mereka. Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: “Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama ita”. Kami pun bersoal-jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan di penjarakannya diriku …. Kepada orag-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai, lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.

Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceritakan keadaaanku. Akhirnya tinggalah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan agama mereka dan belajar … Sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk di bagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat ….Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorangpun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu darinya.

Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku kepadanya; “sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya taqdir Allah atas diri anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi?” “anakku” , ujarnya: “tak seorangpun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul”. Lalu ketika ia wafat aku pun menghubungi pendeta yang di sebutkannya itu. Kuceritakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang shalih yang tinggal di Nashibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selam waktu yang dikehendaki Allah pula. atkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di ‘Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku beternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.

Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dioercayakannya. Ujarnya: “Anakku. Tak seorangpun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ia nanti kan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya”

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku itu?” “baiklah”, ujar mereka. Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada sutu hari datang seorang yahudi Bani Quraidlah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu. Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraidlah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani ‘Amar bin ‘Auf di Quba.

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya: “Bani Qilah celaka. Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi …”. Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hamper saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: “Apa kata anda?” Ada berita apakah?” Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: “Apa urusanmu dengan ini, ayoh kembali ke pekerjaannmu.” Maka akupun kembalilah bekerja ….

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: “Tuan-tuan adalah perantau yang sedang yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedeqah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini”. Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.

Makanlah dengan nama Allah.

Sabda Rasulullah kepada para sahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. “Nah, demi Allah” kataku dalam hati, “Inilah satu dari tanda-tandanya … bahwa ia tak mau memakan harta sedeqah”. Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi kesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: “Kulihat tuan tak hendak makan sedeqah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah”. Lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada sahabatnya:

Makanlah dengan menyebut nama Alah.

Dan beliau pun turut makan bersama mereka. “ Demi Allah:, kataku dalam hati, “inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah”. Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam dan kutemui beliau di baqi, sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.

Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap kenabian sebagai di sebutkan oleh pendeta dulu. Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceritakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceritakan tadi. Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku: “Mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para sahabat untuk membantuku dalam soal keuangan.

Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya. Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis, Salman menceritakan kepada kita usaha keras dan perjuangan besar serta mulia untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada Allah Ta’ala dan membekas sebagai jalan hidup yang harus ditempuhnya ….

Corak manusia ulung manakah orang ini? Dan keunggulan besar manakah yang mendesak jiwanya yang agung dan melecut kemauannya yang keras untuk mengatasi segala kesulitan dan membuatnya mungkin barang yang kelihatan mustahil? Kehausan dan kegandrungan terhadap kebenaran manakah yang telah menyebabkan pemiliknya rela meninggalkan kampung halaman berikut harta benda dan segala macam kesenangan, lalu pergi menempuh daerah yang belum dikenal –dengan segala halangan dan beban penderitaan- pindah dari satu derah ke daerah lain, dari satu negeri ke negeri lain, tak kenal letih atau lelah, di samping tak lupa beribadah secara tekun …?

Sementara pandangannya yang tejam selalu mengawasi manusia, menyelidiki kehidupan dan aliran mereka yang berbeda, sedang tujuannya yang utama tak pernah beranjak dari semual, yang tiada lain hanya mencari kebenaran. Begitu pun pengurbanan mulia yang dibaktikannya demi mencapai hidayah Allah, sampai ia diperjual belikan sebagai budak belian … Dan akhirnya ia diberi Allah ganjaran setimpal hingga dipertemukan dengan al-Haq dan dipersuakan dengan Rasul-Nya, lalu dikaruniai usia lanjut, hingga ia dapat menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana panji-panji Allah berkibaran di seluruh pelosok dunia, sementara ummat islam mengisi ruangan dan sudut-sudutnya dengan hidayah dan petunjuk Allah, dengan kemakmuran dan keadilan …

Bagaimana akhir kesudahan yang dapat kita harapkan dari seorang tokoh yang tulus hati dank eras kemauannya demikian rupa? Sungguh, keislaman Salman adalah keislamannya orang-orang utama dan taqwa. Dan dalam kecerdasan, kesahajaan dan kebebasan dari pengaruh dunia, maka keadaannya mirip sekali dengan Umar bin Khattab. Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang. Salman melarangnya keterlaluan dalam beribadah seperti itu. Pada suatu hari Salman hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunnah esok hari. Di menyalahkannya: “Apakah engkau hendak melarangku shaum dan sholat karena Allah?” Maka jawab Salman: “Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah; dan di samping melakukan sholat, tidurlah”.

Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah saw, maka sabdanya:

“Sungguh Salman telah dipenuhi dengan ilmu”.

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiri sering memuji kecerdasan Salman serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji Agama dan budi pekertinya yang luhur. Di waktu perang Khandaq, kaum Anshar sama beridiri dan berkata: “Salman dari golongan kami”. Bangkitlah pula kamu Muhajirin, kata mereka: “tidak, ia dari golongan kami” Mereka pun dipanggil oleh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam dan sabdanya:

Salman adalah golongan kami, ahlul bait.

Dan memang selayaknyalah Salman mendapat kehormatan seperti itu …

Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah meggelari Salman dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya:

“Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait.

Siapa pula diantara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim.

Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir.

Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir.

Tak ubahhnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering.

Dalam kalbu para sahabat umumnya, pribadi Salman telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar r.a ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan penyanbutan yang setahu kita belum pernah dilakukannya kepada siapapun juga. Dikumpulkannya para sahabat dan mengajak mereka: “Marilah kita pergi menyambut Salman”. Lalu ia keluar bersama mereka menuju pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya … Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan iman kepadanya, Salman hidup sebagai seorang muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Ia pun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar; kemudian di masa Amirul Mu’minin Umar; lalu di masa Khalifah Utsman, di waktu mana ia kembali ke hadlirat Tuhannya.

Di tahun-tahun kejayaan ummat Islam, panji-panji Islam telah berkibar di seluruh penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan Islam, hingga Negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap. Sebagai akibatnya banyaklah timbul masalah pertanggungjawaban secara hokum mengenai perimbangan dan cara pembagian itu, hingga pekerjaan pun bertumpuk dan jabatan tambah meningkat. Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat menemukan Salman? Di manakah kita dapat menjumpainya di sat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu …?

Bukalah mata anda dengan baik.

Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memmanfaatkan waktunya di samping berbakti untuk Negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bekul atau keranjang. Nah, itulah dia Salman …

Perhatikanlah lagi dengan cermat. Lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya. Padahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan. Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara empat sampai enam ribu setahun. Tapi semua itu disumbangkannya habis, satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya: “untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham. Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah. Seandainya Umar bin Khattab melarangku demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan.

Lalu bagaimana wahai ummat Rasulullah? Betapa wahai perikemanusiaan, di mana saja dan kapan saja? Ketika mendengar sebagian sahabat dan kehidupannya yang amat bersahaja, seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar dan lain-lain; sebagian lita menyangka bahwa itu disebabkan suasana lingkungan padang pasir, di mana seorang Arab hanya dapat menutupi keperluan dirinya secara bersahaja. Tetapi sekarang kita berhadapan dengan seorang Persi, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros, sedang ia bukan dari golongan berpunya dan kelas tinggi. Kenapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenagan; bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham setiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri …?

Kenapa ditolaknya pangkat dan tak bersedia menerimanya? Katanya: “Seandainya kamu masih mampu makan tanah –asal tak membawahi dua orang manusia-, maka laukanlah.” Kenapa ia menolak pangkat dan jabatan, keculai jika mengepalai sepasukan tentara yang pergi menuju medan perang? Atau dalam suasan tiada seorang pun yang mempu memikul tanggung jawab kecuali dia, hingga terpaksa ia melakukannya dengan hati murung dan jiwa merintih? Lalu kenapa ketika ia memegang jabatan yang mesti dipikulnya, ia tak mau menerima tunjangan yang dibrikan padanya secara halal?

Diriwayatkan oleh hisyan bin Hisan dari Hasan: “Tunjangan Salman sebabnya lima ribu dirham, gambaran kesederhanaannya ketika ia berpidato di hadapan tiga puluh ribu orang separuh baju luarnya {aba’ah} dijadikan alas duduknya dan separuh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikannya sampai habis, sedang untuk nafqahnya dari hasil usaha kedua tangannya. Kenapa ia melakukan perbuatan seperti itu dan mat zuhud kepada dunia, padahal ia seorang putera Persi yang biasa tenggelam dalam kesenangan dan dipengaruhi arus kemajuan? Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pemberingan menjelang ajalnya, sewaktu ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi Lagi Maha Pengasih.

Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lau Salman menangis. “Apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah”, Tanya Sa’ad, “padahal RAsulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam wafat dalam keadaan ridlo kepada anda?” “Demi Allah, ujar Salman, “daku menangis bukan karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, sabdanya:

Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara.

Padahal harta milikku begitu banyaknya”.

Kata sa’ad: “Saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya: “Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pesan yang akan kami ingat selalu darimu”. Maka ujarnya:

“Wahai Sa’ad.

Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita.

Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi.

Dan pada saat tanganmnu melakukan pembagian”.

Rupanya inilah yan telah mengisi kalbu Salman mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, pangkat dengan pengaruhnya; yaitu pesan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepadanya dan kepada semua sahabatnya, agar mereka tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara.

Salman telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai ketika ruhnya telah siap untuk berangkat; khawatir kalau-kalau ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tak terdapat diruangnya kecuali sebuah piring wadah makannya dan sebuah baskom untuk tempat minum dan wudlu …. , tetapi walau demikian ia menganggap dirinya telah berlaku boros …. Nah, bukankah telah kami beritakan kepada anda bahwa ia mirip sekali dengan Umar?

Pada hari-hari ia bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain, keadaannya tak sedikitpun berubah. Sebagai telah kita ketahui, ia menolak untuk menerima gaji sebagai amir, satu dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafqahnya dari hasil menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya. Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didtangi seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, hingga melelahkannya. Demi dilhat olehnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai ke tempat tujuan. Ia memberi isyarat supaya datang kepadanya, dan Salman menurut dengan patuh. “Tolong bawakan barangku ini”, kata orang dari Syria itu. Maka barang itupun dipikullah oleh Salman, lalu berdua mereka berjalan bersama-sama.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman memberi salam kepada mereka, yang dijawabnya sambil berhenti: “juga kepada amir, kami ucapkan salam”. “Juga kepada amir?” Amir mana yang mereka maksudkan?’ Tanya orang Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka: “Berikanlah kepada kami wahai amir.” Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi, amir dari kota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman menolak, dan berkata sambil menggelengkan kepala: “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu”.

Suatu ketika Salman pernah ditanyai orang: Apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai Amir? Jawabnya: “karena manis waktu memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya!”

Pada ketika yang lain, seorang sahabat memasuki rumah Salman, didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka tanya sahabat itu: ke mana pelayan? Ujarnya: “saya suruh untuk keperluan, maka saya tak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus”.

Apa sebenarnya yang kita sebut “rumah” itu? Baiklah kita ceritakan bagaimana keadaan rumah itu yang sebenarnya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang berlebihan disebut sebagai “rumah” itu, Salman bertanya kepada tukangnya: “bagaimana corak rumah yang hendak anda dirikan?” Kebetulan seorang tukang bangunan ini seorang ‘arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman dan sifatnya yang tak suka bermewah-mewah. Maka ujarnya: “Jangan anda khawatir! Rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung di waktu panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Andainya anda berdiri, maka kepala anda akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, maka kaki anda akan terantuk pada dindingnya”. “benar”, ujar Salman, “seperti itulah seharusnya rumah yang akan anda bangun!”

******

Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman sedikit pun, keculai suatu barang yang memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada isterinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman. Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, dipanggilah isterinya untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya. Kemudian sang isteri disuruhnya mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang ditabur dengan tangannya, lalu kata Salman kepada isterinya: “Percikkanlah air ini ke sekelilingku … sekarang telah hadir di hadapanku makhluq Allah yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian.

Setelah selesai, ia berkata kepada isterinya: “Tutupkanlah pintu dan turunlah!” Perintah itu pun di turut oleh isterinya. Dan tak lama antaranya isterinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh berkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya … ia telah mencapai alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad dan dengan kedua shahabat-shahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tokoh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama ….

Salman …..

Lamalah sudah terobati hati rindunya

Terasa puas, hapus haus hilang dahaga.

Semoga Ridla dan Rahmat Allah menyertainya.

******

Sumber:

Diambil dari kitab ” Rijaal haula arrasul ” karya: Khalid Muhammad Khalid. Yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk dengan judul ” 60 Karakteristik Perihidup Shahabat Rasulullah” Cetakan XIX CV. Penerbit Diponogoro – Bandung ,

TIDAK ADA KATA DAMAI DENGAN ZIONIS YAHUDI

“Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidak Rela kepadamu,sehingga kamu mengikuti millah (Prilaku hidup)mereka…”

Q S.Albaqoroh:120

Fatwa Hakhom Yahudi, “Bunuh Orang-Orang yang Benci Yahudi”

 

Ketakutan melanda rakyat Palestina. Beberapa waktu sebelumnya, muncul fatwa Yahudi yang menyerukan pembunuhan terhadap orang-orang Palestina.

Seorang Hakhom tinggi Yahudi di atas tanah jajahannya di Palestina, mengeluarkan fatwa wajib bagi orang Yahudi menerapkan hukum Taurat yang turun terkait orang-orang Amlaq, yakni orang-orang Palestina.

Fatwa bunuh itu dikeluarkan untuk seluruh orang laki dan perempuan, sampai ibu yang sedang menyusui, perempuan renta, termasuk binatang ternak milik mereka.

Harian Haaretz berbahasa Ibrani, mengutip dari Hakhom Yasrael Rozen, yang menjadi ketua Lembaga keagamaan Yahudi Somet, dan sekaligus salah satu rujukan penting fatwa Yahudi. ( watch children of palestine )

Ia mengatakan, “Orang Israel harus menerapkan hukuman atas Amlaaq karena mereka memiliki kebencian kepada Israel.”

Menurut keyakinan agama Yahudi, kaum Amlaaq adalah orang-orang yang hidup di atas tanah Palestina sejak beberapa abad dan pergerakan mereka kini sudah mencapai perbatasan Mesir Utara. Yahudi mengatakan kaum Amlaaq itulah yang melakukan serangan terhadap rombongan terakhir Bani Israil, yang dipimpin oleh Musa alaihissalam, saat berusaha keluar dari Mesir menuju Palestina. Masih menurut keyakinan Yahudi, “Tuhan” kemudian memerintahkan bani Israil untuk melakukan perang terhadap Amlaaq.

Rozen mengutip perkataannya yang berupa vonis mati bagi kaum Amlaaq,

“Habisi orang-orang Amlaaq dari awal sampai akhirnya. Bunuh mereka, lucuti mereka dari semua kepemilikannya. Jangan kalian kasihi mereka sedikitpun. Dan hendaklah pembunuhan itu dilakukan terus menerus. Satu orang diikuti orang yang lain. Jangan tinggalkan anak-anak. Jangan tinggalkan kebun dan pohon. Bunuh juga seluruh ternak mereka, baik onta maupun keledai.”

 

Terkait hubungan antara orang Palestina dan kaum Amlaaq yang disebut-sebut dalam fatwa gila itu, Hakhom Rozen mengatakan, “Kelompok Amlaaq tidak tergantung dengan ras maupun agama tertentu, tapi mereka adalah semua orang yang membenci Yahudi karena alasan agama atau sentimen kelompok.”

Ia melanjutkan, “Amlaaq akan terus ada seiiring keberadaan Yahudi. Di setiap masa akan muncul Amlaaq dari ras yang berbeda untuk menyerang Yahudi. Karena itulah, perang terhadap Amlaaq harus dilakukan secara universal, di seluruh dunia.” (nastr/iol/eramuslim)

Disadur dari situs :www.swaramuslim.com


Kemenangan tentara Hizbullah atas Israel

Perang tidak seimbang antara Hizbullah dan Israel akhirnya dimenangkan Hizbullah. Padahal Israel dikenal sebagai dengan 168 ribu pasukannya. Hizbullah hanya 6.000. Apa rahasianya?

Perang yang tidak seimbang antara Hizbullah dan Israel akhirnya dimenangkan oleh Hizbullah. Tentara Israel yang sempat dikenal sebagai tentara terkuat yang tidak dapat dikalahkan di Timur Tengah karena 168 ribu pasukannya didukung oleh peralatan perang yang serba cangih. Sementara itu, Hizbullah hanya memiliki 6.000 pejuang utama dan 4.000 cadangan relawan perang didukung oleh persenjataan yang cukup sederhana antara lain roket katyuska yang memiliki jangkauan sekitar 20 km saja.

Setelah perang berhenti pada tanggal 14 Agustus lalu, mulailah para pengamat dan para ahli militer mempelajari perang yang berlangsung 34 hari di Selatan Libanon. Pasukan Hizbullah yang dipimpin oleh Sekjennya, Syeikh Hassan Nasrullah dan pasukan Zionis dipimpin oleh PM Isreal Ehud Olmert dan Menteri Urusan Perang Israel Amir Ferezt. Pertanyaan utama adalah : Apakah mungkin pasukan milisi bersenjata -Hizbullah- dapat menghalau pasukan terhebat di dunia saat ini ?

Salah satu target Israel saat ini adalah membunuh atau menangkap Sekjen Hizbullah, Syeikh Hassan Nasrullah maka Intelejen Israel -mungkin juga intelejen lain yang dibayar oleh Israel- melakukan pencarian rahasia keberadaan Syeikh Hassan Nasrullah, seperti usaha pembunuhan gagal oleh pasukan Israel terhadap wakil Sekjen Hizbullah, Naiem Elqasiem dua hari setelah keluarnya Resolusi DK PBB No. 1701.

Ini merupakan pelangaran pertama Israel terhadap DK PBB yang disusul pelangaran lainnya seperti pendudukan wilayah alkhiyathoh bagian Libanon Selatan yang saat perang Israel gagal mendudukinya wilayah tersebut. Intelejen Israel terus berusaha dan mempelajari strategi perang Hizbullah termasuk rahasia dan kemampuan pertahanan pejuang menghadapi serangan bom GBU-28 yang dapat menghancurkan bunker sedalam 6 meter.

Tentunya, bukanlah yang pertama kali kemenangan perang grilya terhadap pasukan klasik profesional seperti yang pernah terjadi pada saat perang Vietnam melawan AS dan revolusi di Kuba. Ketika manusia memiliki keinginan, pemikiran dan kemampuan memanagemen maka dia akan meraih kemenangan walaupun musuh yang dihadapi memiliki bermacam senjata moderen saat ini.

Cepat atau lambat suatu saat nanti akan ditemukan rahasia kemenangan Hizbullah terhadap Israel seperti yang pernah ditayangkan oleh TV Aljazeera di saat mewawancarai salah satu pejuang di Aet Assaab dan perkampung lain di Libanon-Selatan. Dalam siaran tersebut digambarkan bagaimana pasukan Hizbullah berjuang dari rumah ke rumah dan dari bunker ke bunker yang dipersiapkan melawan agresi Israel .

Para pejuang telah menyiapkan seluruh kampung, kota dan wilayah Libanon Selatan dengan dilengkapi ratusan terowongan dan bunker yang strategis. Hal tersebut dilakukan guna memudahkan dalam pemasokan roket dan seluruh logistik yang diperlukan dalam perang sehinga dapat memberikan pengamanan dari berbagai serangan musuh walaupun sebelum perang sebagian orang mengetahui keberadaan ‘kota’ di bawah tanah Selatan Libanon ini.

Adalah hak Israel untuk mempelajari ketidakmampuan pasukannya setelah gagal total meraih target agresinya, begitu juga para pengamat militer saat ini terus mempelajari di balik kemukjizatan perang grilya Hizbullah yang akan terus dicatat oleh sejarah peradaban manusia.

Kiranya ada empat faktor rahasia utama penunjang kemenangan Hizbullah dalam perang kali ini, keempat paktor rahasia tersebut dapat kita kupas sebagai berikut :

imagePertama: Kerahasiaan, metode ini sangat penting sekali karena dapat menjaga kesalamatan para pejuang. Hal tersebut berdasarkan kepada pengalaman milisi bersenjata khususnya di Libanon yang tidak tersembunyi rahasia akan sangat memudahkan bagi Israel untuk melakukan serangan kapan saja Israel menghendaki.

Bukanlah rahasia juga bahwa pejuang muslim Hizbullah telah membentuk kondisi eksklusif antara Hizbullah dan dunia luar termasuk bentuk eksklusif tersebut terjadi dalam tubuh Hizbullah sendiri. Minimnya jumlah pemimpin dan jajaran petinggi Hizbullah merupakan salah satu faktor kerahasiaan Hizbullah. Tentunya, hal tersebut bukan merupakan aib kekurangan atau bentuk taqiyyah/ berpura-pura tetapi merupakan salah satu usaha kewaspadaan sehinga pejuang Hizbullah dapat meraih kemenangan dan dapat bertahan selama 25 tahun.

imageKedua: Kesiapan alternatif. Di belakang pejuang ada partai yang solid yaitu Hizbullah, Hizbullah menjalankan paktor kedua ini secara seksama di segala bidang baik sosial, politik, militer dan media penyiaran. Misalkan di bidang media, sejak tanggal 12 Juli 2006 lalu Hizbullah telah menyiapkan beberapa kemungkinan terburuk dimulai dari stasion TV Almanar dan Siaran Radio Annur –keduanya milik Hizbullah- dengan penyiaran di tempat persembunyian Sekjen dan petinggi Hizbullah dengan pengawasan dan penjagaan yang ketat dapat memberikan pesan yang kuat baik bagi pendukung mapupun musuhnya. Alternatif ini membuat partai yang didirikan pada tahun 1982 ini siap eksis kapan dan dimanapun berada.

imageKetiga: Kepercayaan, faktor ketiga ini telah memberikan pengaruh yang signifikan baik terhadap para pendukung Hizbullah maupun musuhnya –Zionis Israel dan Amerika-. Munculnya pernyataan Syeikh Hassan Nasrullah di TV merupakan salah satu bentuk dari perang opini, dimana mendapatkan pengakuan dan pembenaran dari pihak musuh sebelum kawan.

Rilis dan penjelasan yang diterbitkan Hizbullah biasanya musuh sendiri percaya terhadap informasi tersebut karena Israel tidak dapat mengingkari kenyataan yang terjadi di lapangan (medan perang). Singkatnya, kepercayaan merupakan paktor utama bagi para pejuang dan pendukung setianya sehinga menghasilkan kekuatan dan kemampuan di saat ummat Islam sekarang sedang mengalami krisis kepercayaan.

imageKeempat : Kemanusian ‘manusia’ pejuang yang mana mereka memiliki keimanan paripurna. Yang didambakan oleh para pejuang Hizbullah adalah mendapatkan syahadah karena mereka adalah kelompok yang berimanan kepada Tuhannya dan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap pimpinannya, kehidupan dunia yang fana tidak dapat mengoyahkan kenikmatan akhirat yang serba kekal. Mereka layak untuk terus belajar sehinga Barat yang selalu menyudutkan para pejuang dengan sebutan teroris, pembunuh kebebasan dan demokrasi.

Bahkan mereka para pejuang dianggap sebagai kaki tangan Suria dan Iran , lebih dari itu meraka mengangap pejuang sebagai orang-orang gila. Tetapi rasanya yang sebenar-benarnya gila adalah mereka yang memperlakukan para pejuang sebagai orang gila baik mereka saat mendapatkan kemenangan maupun ketika kekalahan menimpanya.

Kemenangan Hizbullah terhadap Israel adalah keberhasilan kelompok yang memiliki keinginan dan keyakinan mati syahid, melawan kelompok prajurit profesional tetapi arogan dan sombong karena didukung oleh peralatan moderen saat ini. Namun pasukan tentara Israel tidak memiliki keyakinan dan keinginan mati karena kehidupan dunia sangat mengiurkan sehinga mereka terlena. (hidayatullah.com)

Kiriman Arief Rahman Aeiman Muchtar, mahasiswa S3 pada Universitas Mohamed V, Maroko

Masjid Al-Aqsha Akan dikuasai lagi oleh Kaum Muslimin

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu, sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.

“Maka apabila datang saat hukuman bagi ( kejahatan ) yang pertama dari kedua ( kejahatan itu ) Kami datangkan kepadamu Hamba hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar lalu mereka meraja lela di kampung kampung dan itu ketetapan yang pasti terlaksana”.

“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang besar”.

“Jika kamu berbuat baik maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. Dan apabila datang hukuman bagi (kejahatan) yang ke dua ( Kami datangkan orang orang lain ) yang menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid sebagaimana musuh-musuh mu masuk pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis habisnya apa saja yang mereka kuasai”. Q.S.Al-Israa : 4 – 7

Kaum Bani Israil adalan keturunan dari Nabi Yacub Alaihi Salam putranya Nabi Ishak alaihi Salam putra Nabi Ibrahim Alaihi Salam dari istrinya yang bernama Sarah. Para Nabi dan Rasul pun banyak yang di utus oleh Allah dari kalangan mereka sampai pada masa ke Nabian Isa bin Maryam Alaihi Salam. Allah telah memberikan kelebihan dan kemulyaan kepada kaum Bani Israil yang berupa akal, fisik dan materi ( Kekayaan )

Diantara Marga-marga dari Bani Israil ada yang bernama Yahudi dari keturunan Yahudza putra dari nabi Yacub a.s dari istri yang pertama. Dan dari Suku Yahudi ini pun ada beberapa suku lagi, diantaranya ada suku Bani Quraidhoh, Bani Nadir, Bani Qunaiqo dan ada suku yang lainnya. Dengan di berinya kelebihan dan kemulyaan oleh Allah sehingga hal ini menjadikan kesombongan bagi mereka. Sehingga mereka berani membantah kepada perintah Allah dan Rasul-Nya bahkan mereka telah melampaui batas dengan membunuh para Nabi dan Rasul yang di utus Allah untuk membimbing mereka.

Mereka ( Bani Israil ) sering membuat kedurhakaan dan kerusakan di muka bumi ini, kedurhakaan ( kejahatan ) yang pertama mereka perbuat adalah merubah kitab-kitab yang di turunkan Allah seperti Taurot, Zabur dan Injil, mereka merubah tulisan dan kandungan Kitab-kitab Allah, sehingga Tauhid kepada Allah dan Syareat-Nya bergeser dari arti yang sebenarnya.

Karakter mereka banyak di gambarkan Allah dalam Al-Quran, dan mereka telah menyebar kepelosok negeri, negara-negara bagian Barat dan Timur. Ketika Allah mengutus Nabi-Nya yang terakhir Muhammad Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam Kaum Yahudi ( Bani Israil ) Ikut memusuhi dan memerangi Nabi, mereka bergabung dengan orang-orang Musyrikin Quraisy di Mekah dalam Perang Ahzab yang akhirnya pasukan Ahzab dikalahkan oleh kaum Muslimin. Kemudian Allah memberi kukuman kepada Yahudi ( Bani Israil ) dari kejahatan yang pertama atas dua kali kejahatan yang dilakukan, mereka di keluarkan oleh Allah dari kota Madinah dan sebagiannya lagi di bunuh dengan pelantara tangan kaum Muslimin setelah mengalami kekalahan nya di perang Ahzab bersama pasukan Musyrikin Quraisy Mekah.

S etelah peristiwa tersebut Bangsa yahudi ( Bani Israil ) benar-benar dihinakan Allah, sebaiknya umat Islam diberikan kemenangan demi kemenangan hingga pada masa ke kholifahan Abu Bakar sampai puncaknya dimasa ke Kholifahan Umar bin khottob, negara Romawi yang menjadi Super power kekuatan Yahudi Kristen berada dalam pangkuan umat Islam dan Baitul Maqdis ( Palestina ) berada dalam tanggung jawab Kholifah Umar bin khottob. Ketika ke Kholifahan berlanjut kepada Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib bangsa Yahudi mulai beraksi kembali dan berhasil mengadu domba kaum Muslimin, Abdullah bin Sabba adalah tokoh yang di kenal saat itu menjadi biang kerok perpecahan kaum Muslimin, sehingga pada saat itu kaum Muslimin pecah menjadi dua kepemimpinan yaitu ke Kholifahan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, dan selanjutnya mereka berhasil memecah belah umat Islam hingga menjadi beberapa kelompok, ada Khawarij, Syiah, Mu’tazilah Qodariyah, Murzi’ah dsb. Kemudian atas ide-idenya Yahudi ( Bani Israil ) yang mempengaruhi umat Islam, ke Khilafahan bergeser menjadi sebuah Dinasti ( Mulkan ) dalam hadits disebut Mulkan Jabbariyah dan Mulkan Adlon walaupun pada saat itu masih disebut sebagai ke Khilafahan tapi ke Khilafahan ini menjadi turun temurun, dinasti Umayyah dan dinasti Abassiyah kaum Muslimin mengalami kekacauan saat itu sesama saudara saling berperang dan saling membunuh. Itulah keberhasilan kejahatan bangsa Yahudi. Akhirnya puncak keberhasilan mereka dalam menghancurkan Umat Islam adalah menumbangkan ke Khilafahan ( ke Mulkanan ) Turki Usmani pada tahun 1924 .

Kemudian perampasan Baitul Maqdis ( Palestina ) oleh bangsa Yahudi ( Bani israil ) terus di gulirkan hingga akhirnya Masjid Al-Aqsha dikuasai oleh mereka dan juga sebagian wilayah Palestina. Hingga mereka dapat menjajah wilayah-wilayah Muslim yang lain, seperti Irak, Kuwait, Afganistan, Pakistan dan wilayah-wilayah Muslim yang lainnya.

Firman Allah Subhanahu Wata’ala : artinya “Kemudian Kami berikan kepadamu ( Bani Israil ) giliran untuk mengalahkan mereka ( umat Islam ) kembali, dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang besar”. Q.S.Bani Israil : 6

Kini jaringan Zionis Israel sudah menyebar keseluruh dunia dan sudah mempunyai kekuatan yang besar, seolah olah mereka bangsa yang terbesar dan tidak akan terkalahkan hingga akhirnya mereka dapat menguasai dunia ini.

Firman Allah Subhanahu Wata’la : Artinya ” …………… dan apabila datang hukuman bagi (kejahatan) kedua ( Kami datangkan orang-orang lain ) yang menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid ( Al-Aqsha ) sebagaimana musuh-musuh mu masuk pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”. Q.S. Bani Israil : 7

Perlawanan Pejuang-pejuang Islam terhadap Yahudi ( Israel ) di gulirkan di wilayah-wilayah Islam mereka tidak pernah berhenti, terus menyusun kekuatannya untuk melawan kesombongan Yahudi, bahkan di wilayah Palestina sendiri perlawanan tidak pernah berhenti sampai Al-Aqsha kembali kepada mereka ( Umat Islam )

Umat Islam selama belum kembali kepada Khittah Nubuwwah ( Melaksanakan aturan Allah dan contoh dari Rasul-Nya ) mereka tidak akan diberikan kemenangan oleh Allah, melaksanakan aturan Allah dan contoh dari Rasul-Nya tidak hanya dalam masalah fiqih ibadah saja tapi dari seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem kepemimpinan dan pola perjuangan dalam melawan orang-orang Kuffar.

Umat Islam akan kembali dapat mengalahkan Kafir yahudi Israel kalau sudah bisa bersatu dalam satu ke pemimpinan, sebagaimana ketika ke Kholifahan Umar bin Khottob merebut Palestina, juga Salahudin al-Ayubi merebutnya. Akankah kepemimpinan model ini akan kembali terwujud di akhir jaman ini ?

Hadits Nabi Shalaallahu alaihi wassalam dari Nu’man bin Basyir yang diriwayatkan oleh Ahmad bin hambal. Musnad Ahmad Juz 4

‘Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa ke Khilafahan yang mengikuti jejak kenabian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit ( Mulkan Adlan ) adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu masa kerajaan yang menyombongkan diri ( Mulkan Jabbariyah ) adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa ke Khilafahan yang mengikuti jejak kenabian ( Khilafah ‘Ala minhajjin Nubuwwah ) Kemudian Rasul diam”.

Demikianlah apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah, bahwa kesatuan Muslimin dalam wujud ke Khilafahan ini pasti akan terwujud lagi, tergantung umat Islam itu sendiri mau apa tidak untuk mengamalkannya ? sebagian umat Islam sudah ada yang berupaya untuk mewujudkan kembali sistem ke Khilafahan yang mengikuti jejak kenabian ini. tinggal bagaimana kepedulian umat Islam yang lainnya, karena dengan jalan itulah janji Allah akan diberikan kepada umat Islam untuk mengalahkan Kafir Yahudi Israel dalam merebut kembali Masjid Al-Aqsha di Palestina yang sekarang sedang dikuasai oleh mereka ( Yahudi Israel )
Kalau memperhatikan hadits di atas sekarang sudah masuk kepada periode Khilafah “Ala minhajjin Nubuwwah ( Khilafah yang mengikuti jejak kenabian ) Umat Islam sekarang sudah menyadari bahwa solusi satu-satunya untuk menyatukan umat Islam dan memenangkan perjuangan Umat Islam hanya dengan Khilafah, kesatuan Muslimin dibawah satu kepemimpinan seorang kholifah. Tapi sayang hal ini masih belum satu persepsi dikalangan umat Islam. Mudah-mudahan dengan upaya seperti ini Allah memberikan karuniannya kepada umat Islam, hingga umat Islam benar-benar berada dalam satu kepemimpinan Khilafah yang mengikuti jejak kenabian yang akhirnya Masjid Al-Aqsha di Palestina dapat dikuasai lagi oleh Muslimin. Sebagaimana akan janji Allah yang tercantum dalam Q.S.Al-Israa : 7

Wallahu ‘alam bisawab

Jihad Islam Puji Keberanian Pejuang Palestina

Friday, 07 March 2008

Wakil sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ziyad Nakhalah memuji keberanian para pejuang Palestina di selatan Jalur Gaza. Para pejuang Palestina anggota brigade Al-Quds sayap militer Gerakan Jihad Islam kemarin berhasil meledakkan sebuah jeep militer tentara Rezim Zionis di selatan Jalur Gaza. Akibat ledakan tersebut, seorang tentara Israel tewas dan tiga lainnya cidera.

Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ziyad Nakhalah, kemarin malam saat diwawancarai oleh televisi Al-Alam menyatakan, aksi berani para pejuang Palestina di selatan Jalur gaza, pada dasarnya merupakan reaksi wajar aktifitas harian pejuang Palestina melawan kebiadaban tiada henti Rezim Zionis.

Nakhlah juga membeberkan kemajuan aksi jihad para pejuang Palestina menghadapi kejahatan Rezim Zionis, seraya menegaskan, aksi hebat ini, secara jangka panjang, tentu berpengaruh terhadap strategi militer Rezim Zionis.

Terkait isu gencatan senjata dengan Rezim Zionis Israel, pemimpin Gerakan Jihad Islam Palestina ini menegaskan, peluang untuk menggelar dialog soal gencatan senjata dengan Israel, hanya bisa terwujud bila blokade Gaza dan agresi militer Rezim Zionis dihentikan secara total.

Jihad ke Palestina

Oleh
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali Hafizhahullah

Pertama : Sudah seyogyanya kita mengetahui dengan jelas masalah Palestina. Palestina merupakan bumi yang diberkahi dan suci. Al-Qur’an menyipati bumi Palestina dengan bumi yang diberkahi sebanyak lima kali, dan ayat yang paling jelas adalah ayat pertama dari surat Al-Isra : “ ….. yang telah kami berkahi di sekitarnya”.

Kedua : Negeri kaum muslimin sudah sepantasnya dijaga oleh kaum muslimin sendiri, dan agar kaum muslimin melawan orang-orang yang ingin merampasnya. Orang-orang Yahudi –laknat Alloh atas mereka dan semoga Alloh membinasakan mereka- adalah penjajah atas negara kaum muslimin di Palestina, maka wajib bagi kaum muslimin melawan dan memerangi serta mengeluarkan orang-orang Yahudi dari bumi Palestina agar mereka kembali ke tempat asal mereka.

Ketiga : Yang harus diketahui, jihad adalah puncaknya Islam sebagaimana dalam hadits Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu : “Tiangnya agama Islam adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Alloh”. Akan tetapi, tidaklah pantas jika kita mengangkat panji jihad bukan pada tempatnya atau menempatkan jihad bukan pada tempat yang sudah ditentukan oleh Alloh dan Rasulnya.

Sebuah hadits yang telah dikeluarkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dan selainnya bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu telah menyebutkan sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Islam dibangun di atas lima hal …., lalu seorang berkata : “Dan Jihad”, -orang tersebut bermaksud mengatakan bahwa jihad merupakan salah satu rukun Islam yang lima- maka Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Jihad merupakan hal yang baik tapi inilah yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Jihad bukan termasuk rukun Islam yang lima, pent)”

Jihad akan terus ada sampai hari kiamat tidak akan sirna selamanya. Akan tetapi, jihad mempunyai syarat-syarat (yang harus ditunaikan dulu sebelum melakukannya, -pent) yang telah dijelaskan oleh para ulama. Jihad mengandung sebab-sebab yang bersifat maknawi, pendidikan, aqidah dan materi. Sebab-sebab yang bersifat aqidah dan pendidikan adalah aplikasi penghambaan kita kepada Alloh, kita menolong agama Alloh, firman Alloh.

“Artinya : Apabila kalian menolong agama Alloh, niscaya Alloh akan menolong kalian” [Muhammad : 7]

Alloh juga berfirman.

“Artinya : Dan Alloh pasti akan menolong orang-orang yang menolong agamaNya” [Al-Hajj : 40]

Oleh karena itu, kita haruslah menolong agama Alloh dahulu hingga Alloh menolong kita. Apakah makna menolong agama Alloh ? Maknanya, kita menegakkan agama Alloh, kita menegakkan syari’at Alloh, kita menjadi hamba Alloh yang sesungguhnya.

Perkara yang kedua, persiapan yang bersifat materi/jasmani, firman Alloh.

“Artinya : Persiapkan apa-apa yang sanggup kalian persiapkan, dari kekuatan fisik maupun dari kuda-kuda yang ditambatkan” [Al-Anfal : 60]

Akan tetapi, mana yang lebih utama ? Kita mempersiapkan berbagai senjata, sedangkan aqidah kita berantakan, akhlak kita seperti akhlak orang Yahudi, dan kebiasaan kita seperti kebiasaan Yahudi.

Kita telah banyak mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan kaum sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta, hingga mereka masuk ke lubang biawak pun kalian ikuti”. Para sahabat bertanya : “Yahudi dan Nashara?”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Siapa lagi kalau bukan mereka?!”.

Dengan demikian, dalil aqli dan naqli serta realita memperkuat bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menanamkan agama Alloh dalam diri kita. Yaitu dengan kita menolong agama Alloh dan kembali kepada Alloh, sebagaimana disabdakan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara inah, dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi, ridha dengan persawahan, serta kalian meninggalkan jihad, Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian”.

Semua maksiat di atas telah kalian lakukan, salah satunya meninggalkan jihad hingga Alloh timpakan kehinaan atas kalian. Barangsiapa yang melakukan hal-hal tersebut maka akan ditimpakan kehinaan atas mereka. Kemudian bagaimana agar kehinaan tersebut terangkat ? Apakah dengan menegakkan jihad? Tidak, kembali untuk menegakkan jihad di waktu sekarang tidak bermanfaat, karena manusia yang berkata “Aku akan kembali kepada jihad” tidak memahami jihad ; maka kita haruslah kembali kepada asasnya, yaitu sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Hingga kalian kembali kepada agama kalian” (Hadits tersebut tidak mengatakan hingga kalian menegakkan jihad akan tetapi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbunyi : “Hingga kalian kembali kepada agama kalian, pent).

Oleh karena itu, kami katakan bahwa memerdekakan Palestina, mengeluarkan orang-orang Yahudi dari bumi Palestina, merupakan salah satu dari kewajiban umat Islam. Tidak sepantasnya kita ridha dan hanya diam saja dengan kehinaan dan kesengsaraan. Namun wajib bagi kita mengambil sebab-sebab yang syar’i dan melaksanakan ketentuan Alloh guna mendapatkan pertolonganNya, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam shahih Bukhari dan Muslim.

“Kalian memerangi orang-orang Yahudi hingga mereka berlarian dan bersembunyi di balik pepohonan dan bebatuan, hingga pepohonan dan berbatuan berkata : “Wahai muslim, wahai hamba Alloh….”

Dengan demikian, yang menang atas orang-orang Yahudi, yang membunuh Yahudi, yang mengeluarkan orang Yahudi dari negeri kaum muslimin adalah muslim, hamba Alloh ; jika kita kembali ke jalan Alloh maka kita ditolong atas orang Yahudi. Adapun kita mempergunakan keadaan kaum muslimin yang dirundung duka dan luka untuk kepentingan suatu kelompok, maka ini tidaklah diridhai oleh agama kita dan tidak diterima oleh seorang yang mukhlis dari kita. Realita yang terjadi pada pergerakan-pergerakan hizbiyyah serta kelompok-kelompok yang lain adalah mereka sibuk dengan kejadian tragis di Palestina, mereka sibuk dalam mengekspos pembunuhan, penghancuran, dan selainnya, dan sebenarnya mereka hanya duduk-duduk saja.

Mereka sibuk dengan ketragisan di Checnya dan di Bosnia, tapi apa yang telah mereka hasilkan ? Tidak ada sedikit pun. Namun tiba-tiba mereka datang dan berkata : “Kalian wahai salafiyyun tidak menganjurkan manusia untuk berjihad, kalian tidak menginginkan negeri kaum muslimin bebas (firman Alloh) : “Sesungguhnya mereka tidaklah berkata melainkan hanya perkataan dusta” [Al-Kahfi : 5]

Demi Alloh, sejarah akan bersaksi bahwa dakwah salafiyyah ini merupakan dakwah yang sangat antusias untuk menjadikan kaum muslimin sebagai sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia. Akan tetapi, mereka yang tidak ingin berjalan di atas ketentuan Alloh tergesa-gesa dalam bertindak hingga menjatuhkan umat dalam kesedihan, penyesalan, pembunuhan dan perusakan. Lihatlah realita mereka di Aljazair. Apa yang telah dihasilkan oleh revolusi mereka? Pembunuhan, perusakan, dan hancurnya mobil-mobil… Apa yang dihasilkan di Mesir? Apa yang dihasilkan di Syria? Apa yang dihasilkan oleh mereka yang mengatakan, “Kami keluar dari pemerintahan yang tidak berhukum dengan hukum Alloh” … Mereka tidak mengubah sesuatupun melainkan justru menambah kesengsaraan, menambah fitnah, menambah kehancuran. Dahulu manusia dalam ketenangan, kedamaian, sekarang berubah mejadi kesengsaraan dan kepedihan.

Sesungguhnya yang terjadi di Palestina adalah penyalahgunaan keadaan manusia untuk mencapai apa yang diinginkan oleh para pemimpin. Sebelum kita melihat kepada intifadhah maka lihatlah kepada intifadhah yang terdahulu yang selama berpuluh-puluh tahun bergolak namun apa yang dihasilkan? Hanya menghasilkan perdamaian …. Maka harus kita berangkat dari realita yang (pahit ini) dan jangan sampai kita ditunggangi oleh ahli batil. Siapakah yang mengatakan bahwa batu bisa menghancurkan tank-tank? Dan siapa yang mengatakan bahwa ketapel bisa mengalahkan rudal sedangkan anda dan musuh anda sama-sama bermaksiat kepada Alloh Ta’ala ?!

Ada seorang ikhwah dari Baitul Maqdis bercerita kepada saya (Syaikh) bahwa dia telah mengunjungi para korban yang terluka : “Kami berkunjung kepada 32 orang lebih, 30 orang di antara mereka tidak shalat. Mereka datang dan berkata : (orang) Nasrani yang ikut dan turun ke jalan untuk demonstrasi dan terbunuh dia syahid. Apabila terbunuh karena ikut revolusi maka mereka syahid. Pemabuk, pezina, syirik kepada Alloh asalkan dia ikut revolusi, maka dia mati syahid”. Palestina tidak akan bebas dan merdeka hanya dengan slogan-slogan.

Palestina membutuhkan sosok-sosok lelaki, yang melakukan ketaatan kepada Alloh, seperti dalam hadits : “Wahai muslim, wahai hamba Alloh, di belakangku ada Yahudi. Kemarilah dan bunuh dia”. Merekalah yang akan mebebaskan Palestina, merekalah yang akan membebaskan rumah-rumah kaum muslimin yang terampas.

Kita mohon kepada Alloh agar dikembalikan kepada agama kita dengan baik, dan agar diangkat kehinaan dari kita, diangkat kehinaan dari saudara-saudara kita serta negeri-negeri kaum muslimin, dan agar dikembalikan apa-apa yang terampas dari negeri kaum muslimin kepada negeri Islam.

Alhamdulillah Rabbil Alamin

[Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi I Tahun VI/Sya’ban 1427/Sept 06 Diterbitkan oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim 61153]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.